Sunday, October 12, 2008

my best friend…

11 Oktober. 5 malam di hotel turismo dili, saya ditemani satu kawan. dia staf lapang di distrik Manatuto. orangnya pendiam. sempat bekerja di program PPK, jaman Indonesia, dan terus berlanjut hingga 4 tahun di Timor Leste. proyek world bank ini sudah ditutup. terlalu banyak pemborosan katanya.

 

satu malam, ia menceritakan masa kecilnya. dan membuat saya terperangah. ketika itu tahun 1975-an. saat rawan, karena Timor Leste baru saja terdaftar sebagai propinsi termuda Indonesia. perlawanan dan protes dari masyarakat Timor Leste masih berlangsung. mereka mengungsi dari satu tempat ke tempat lain. masuk hutan. naik gunung. bersama orang tua dan 8 kaka beradik. suatu hari, tiba-tiba serangan mendadak. ntah siapa. keluarga ini cerai berai. ia tertinggal bersama kaka dan adiknya. suasana tak menentu. ia sempat menyaksikan kakak lelakinya, 10 tahun, ditembak dihadapannya. meninggal dunia. tak tau siapa yang menembak…

 

ah, saya tersentak. sungguh! tak terbayangkan…..

 

kawan saya kemudian melanjutkan ceritanya. singkat cerita, 5 bulan kemudian, keluarga mereka akhirnya berkumpul kembali. walaupun tidak lengkap. masa yang sulit. ibunya meninggal kemudian, karena tak kuasa menahan sedih dan rasa bersalah yang sangat, karena meninggalkan anak-anaknya. sang ayah pun menyusul. saat ini kawan saya tinggal bersama 3 saudaranya yang tersisa. 4 orang yang lain meninggal. salah satunya, saat referendum 1999.  kawan saya sekarang tertidur lelap dikasur sebelah. sulit melupakan, ujarnya. saya do’akan hidupnya bahagia….

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 07:00:58 | Permalink | Comments (2)

Timor Leste Review

11 October. 5 hari sudah saya di Dili. workshop persiapan, sebelum terjun ke melakukan review lapangan. kami bertujuh. Ed, sebagai team lead, dari Philippines. Maria, Kina, Floriano, Izaura, Shelina, Paulo dan saya. ada satu penerjemah Ed, Luna. baru bergabung senin besok. ada 3 distrik (dulunya kabupaten) yang menjadi wilayah evaluasi program. Manatutu, Liquisa dan Oecusee. saya, Shelina dan Paulo di Oecusee. satu district enclave di wilayah Indonesia. wilayah ini bagian timor barat. masyarakatnya sendiri satu rumpun. saya jadi teringat saat training inspirit 2 bulan lalu di kupang. komunitas kreatif. sebagian peserta juga berasal dari Keva, kabupaten tetangga Oecusee.

 

awalnya sempat antusias karena AI dan OM akan digunakan. tapi, dalam prosesnya, kembali ke metode lama. defisit based thinking. alhasil 3 hari proses lokakarya, melelahkan karena dipenuhi DBT. gimana ya caranya? saat ini saya sedang berpikir keras, mencoba keluar dari DBT. sulit juga, karena tim diskusi saya, bahkan team leader saya pun sangat DBT. saya diminta menyiapkan panduan pertanyaan. walaupun appreciative questions, tapi ketika dipraktekan, jauh dari appreciative.

 

anyway, let me see next week. semoga bisa praktek…dan tetap be vibrant!!

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 07:00:01 | Permalink | Comments (1) »

Wellbeing

dini hari 7 oktober. terjemahan sederhananya, “sejahtera”. bukan kata yang tepat. tapi tak ada pilihan kata lain. sejak lama saya mencoba cari padanan kata yang tepat arti “wellbeing” dalam bahasa indonesia. belum pas rasanya. akhirnya, saya putuskan, tidak penting kata. yang penting bagaimana setiap orang bisa memahami sejahtera dari persepektif mereka. dan ada common understanding, bahwa wellbeing bukanlah hal sama bagi semua orang. setiap orang  memiliki makna sendiri tentang wellbeing bagi dirinya maupun komunitasnya.

 

diskusi kami tentang wellbeing cukup panjang. hampir 2 tahun. sempat praktek di vietnam tahun lalu. intinya, ada kerangka wellbeing yang kami rumuskan. semuanya berbasis hak (right based approach). self sustenance, self esteem, self determination, dan berakhir di responsible wellbeing. akhirnya sejahtera itu ya, kembali ke individu. bagaimana dia mampu bertanggung jawab pada dirinya, kelompoknya, menentukan nasibnya sendiri, dan pada akhirnya mampu diterapkan atau disebarkan benih kemandiriannya. gak ada bedanya dengan vibrant facilitation-nya Inspirit. silakan anda temukan, nilai keagungan insani. itulah wellbeing bagi seorang fasilitator.

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 06:58:41 | Permalink | Comments (1) »

AI plus Outcome Mapping

dini hari 7 oktober. didepan komputer memulai kerja. saya diminta menjadi bagian review team untuk program  di Timor Leste. kesempatan ini tidak saya sia-siakan. walaupun harus libur 3 minggu, meninggalkan Jakarta. bagi saya, ini seperti latihan lapang. kapan lagi. tim kami semuanya 9 orang. team lead kami, Ed namanya, aktivis dari filipina. ternyata Ed kawan baik Nonet, Marvick. beberapa kali datang ke Indonesia. pernah mengevaluasi project hutan di Wonosobo. dunia ternyata memang sempit. walaupun ada 6,5 milyar penduduk dunia. toh, ketemunya, ya selingkaran kecil lu lagi…lu lagi…

 

awalnya saya nervous di tim ini. terus terang, ini kali kedua saya evaluasi sungguh-sungguh. pertama dulu di India. dan, saya sempat stress berat dengan team lead-nya. senior, dan sungguh cerewet. sempat konsultasi dengan kawan. dia bilang, “evaluasi mah di seluruh dunia mung kitu-kitu keneh. yang penting evaluasi as learning tool aja. orang yang dievaluasi menjadi lebih bergairah. lebih bisa memanfaatkan untuk masa depannya”. nah, kalimat sejuk itu, membuat lumayan tenang. rekomendasinya, gunakan appreciative evaluation dan juga outcome mapping. hmmm, mikir lagi malam itu….

 

saya baca beberapa referensi, bukan lebih baik, eh lebih nervous. ah, akhirnya saya tidur, tinggalkan bahan bacaan, hasil browsing berjam-jam-an. pasrah saja.

 

pagi hari kami briefing. Ed, team lead kami, ternyata memilih appreciative evaluation dan outcome mapping. dia menjelaskan, bak kuliah. ah, lega rasanya. nervous ilang. malah, saya maju dan menerjemahkannya dalam bahasa di flipchart. maklum seluruh proses akan berbahasa Indonesia. dan seluruh team, kecuali Ed, Marie and Kurian, hanya bisa berbahasa Tetun dan Indonesia. anyway, saat ini saya sangat bersemangat. saya tertantang untuk belajar apa itu AI dalam evaluasi dan juga OM. sayangnya, lagi-lagi tak ada koneksi internet. semoga tidak terhambat……

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 06:57:44 | Permalink | No Comments »

everything is DOLLAR

sore 6 oktober. ah, sepi rasanya ketika akses internet hilang. dunia rasanya sempit, bagi saya yang setiap hari tidak lepas dari internet. ini hari kedua saya di Dili. banyak pertanyaan muncul dibenak. terlintas mahalnya harga satu piring pecel (tanpa nasi). mahalnya harga satu mangkuk sup ikan bambu muda. bahkan, satu gelas es teh tawar. semuanya
US dolar. 3 dolar harga pecel. 8 dolar harga sup ikan. dan 1.2 dolar harga satu gelas teh tawar. kalikan saja 10 ribu. itu harga yang saya bayar makan siang tadi. di warung milik orang asal Jogjakarta.

 

semuanya bayar dengan dolar. ntah di supermaket, samping hotel. maupun tukang aqua depan hotel. tak berlaku dolar lainnya. apalagi rupiah. sudah tak berharga. berapa ya harga kerupuk? tadi sih sempat ngintip di supermaket. harganya 1.5 dolar perbungkus. masya allah…. kebayang gak sih,,,,,

 

apa yang terjadi dengan Timor Leste paska merdeka. mengapa tidak australia dolar? US dolar dipilih agar lebih netral. dan tidak merusak hubungan politik dengan negara tetangga. Indonesia. begitu pendapat sang pemilik supermaket. kebetulan saya sempat nongkrong disana. meninjau berbagai produk dan harga. uiiih, banyak barang import. dari Australia. dan terutama dari Indonesia. dengan harga yang berlipat-lipat lebih mahal. siapa lagi yang mampu beli. yang pasti hanya sedikit orang timor leste berbelanja di supermarket ini.

 

ah, sekarang saatnya makan malam. sembari rapat dengan Ed dan Kurian. lagi-lagi terlintas. “berapa dolar harus dibayar malam ini!” bisa jadi saya salah masuk tempat makan. besok saya akan jelajahi rumah makan murah ala orang timor leste. bukan ala UN atau ala INGO.

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 06:55:36 | Permalink | No Comments »

Welcome in Dili

malam 5 oktober. ini adalah kali pertama saya di Timor Leste. ada rasa haru saat kaki saya menginjak negara tetangga. tidak ada bedanya dengan kupang, waikabubak, waingapu, dan wilayah NTT lainnya. kering, dan panas menyengat.  saya disambut hangat petugas imigrasi, sembari meminta 30 dollar. visa on arrival. ah, saya lupa, ini sebuah negara.

 

bersama Kurian dan Ed, dijemput dengan mobil Oxfam. sungguh gak nyaman duduk di dalam mobil berlabel. saya sempat sinis pada mobil bercap ini. mengingatkan saya di Aceh. berseliweran mobil bercap UN, Oxfam, dan beragam INGO. tanpa sempat menyapa, apalagi diajak ikut serta. hssshh… walaupun di dalamnya, ya panas juga. karena sudah bobrok dan tak ber-AC.

 

saya diinapkan di hotel turismo. tepat di tepi pantai. cukup nyaman lah. saya membayangkan Timor Leste ketika masih dalam NKRI. apa yang terjadi ketika itu. menyesal rasanya tidak cukup telaten mengikuti perjuangan Timor Leste ketika itu. ruhnya, tidak saya rasakan. saya akan belajar dalam beberapa hari ke depan. tidak sekedar evaluasi program semata. saya ingin terlibat. apa yang dirasakan masyarakat paska referendum.

 

sempat berkeliling
kota Dili sekitarnya. teman saya bilang, akhirnya ketakutan itu hilang di masyarakat. sembari menunjuk pantai yang penuh sesak manusia. saya sempat menikmati wajah-wajah ceria keluarga. berlarian dan berenang di pantai. suasana hangat yang telah lama tidak mereka rasakan. ah, mulai besok saya akan jelajahi wajah-wajah ceria lainnya. “selamat datang di bumi Timor Leste”, sapa petugas imigrasi. fasih berbahasa indonesia.

 

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 06:51:52 | Permalink | No Comments »