July 04, 2007

Ecological Footprint

Iseng saja. Pikir-pikir, ecogical footprint perempuan India tinggi juga. Liat saja pakaian mereka. Membutuhkan kain yang cukup banyak. Full color. Kimia. Jarang pewarna alami, karena pasti mahal. Mereka pasti pakai anting telinga, anting hidup, kalung dan gelang. Dan tidak hanya satu. Pasti beberapa. Belum lagi kaki gelang kaki mereka. Juga tidak sekedar satu.

Berapa energi yang dibutuhkan untuk membuat kain. Berapa banyak kimia yang terbuang. Berapa emas ditambang untuk memenuhi kebutuhan asesoris mereka.wah, tak terhingga. Seru juga ya! Tapi ini sekedar iseng ......

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 21:57:23 | Permanent Link | Comments (1) |

Andra Prades

3 Juli 2007

Sekali lagi kami mengunjungi PREPARE. Seperti di Nagapattinam. Jaraknya 2,5 dari tempat kami menginap. Propinsi Andra Prades. Selama 3 jam, akhirnya kami mendapat gambaran utuh tentang organisasi ini, serta bagaimana mereka bekerja. Anggapan saya bahwa organisasi ini sekedar delivery services, ternyata salah. Mereka juga sangat komit memperjuangkan akses dan hak komunitas. Mungkin juga karena mereka sangat fasih menjelaskan filosofi organisasi mereka.

Organisasi ini berusia lebih 30 tahun. Merupakan bagian dari gereja. Mereka memiliki kader-kader, dan beragam aktifitas kemanusian telah dilakukan sejak dulu. Mengingat propinsi ini sangat rentan terhadap bencana, seperti banjir dan cyclone. Tidak hanya di propinsi AP, tapi juga di Tamil Madu. Sebagian besar mereka mengorganisir kelompok petani dan nelayan. Saat ini mereka telah memiliki training centre di Orisa. Luar biasa.

Kami berkesempatan mengunjungi dua desa. Saya baru paham bahwa seluruh program yang terkait income generating, selalu diberikan kepada kelompok perempuan. Di tingkat desa, selalu ada kelompok perempuan. SLG (saya lupa nama panjangnya). Sehingga kelompok perempuan menguasai aset, seperti kapal, jaring, dsb. Setiap program, ntah itu pemerintah ataupun ornop selalu melalui kelompok perempuan di tingkat desa.

Gerakan sosial di India memang jauh lebih progresif. Hanya saja, jumlah populasi yang demikian besar, membuat India terpuruk dalam kemiskinan. Di desa ini saja, 1 km ada lebih dari 5000 orang. Jumlah yang fantastik. Semakin lama gap miskin kaya semakin lebar. Gerakan sosial ditingkat kaum miskin semata belum cukup. Perlu gerakan kelas menengah untuk memerangi kemiskinan di India. Hipotesa saya, banyak orang pintar India justru menjadi pekerja di negara lain, seperti dokter, ahli nukir, pertanian, dan banyak lagi. Termasuk aktivis. Sayang memang....

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 21:55:25 | Permanent Link | Comments (0) |

Poverty

2 Juli 2007

Adinarayana Puram. Nama sebuah desa di propinsi Nellore, 5 jam naik mobil dari Chennai. Kami tiba di hotel, kurang lebih sama dengan tempat saya sebelumnya di Nagattipanam. Hanya saja hotel ini tepat ditengah-tengah pasar. Jadi ramai, dan agak jorok. Sampah lumayan berserakan dimana-mana. Kami makan siang di vegetarian restoran. Tepat dibawah hotel ini. Losmen tepatnya. Seperti biasa beralaskan daun, pakai tangan, beragam jenis bumbu india. Yang masih belum bisa saya coba, nasi campur yoghurt.

Desa Adinarayana Puram ini desa baru. Desa mereka habis tergulung tsunami. Mereka merelokasi diri ke tempat yang jauh dari pantai.  Merupakan komunitas dengan kasta paling rendah. Sehingga sedikit sekali bantuan datang kepada mereka. Komunitas ini tidak punya ambisi. Bagi mereka, selama catimaran (perahu dari log) mereka diganti, dan mereka bisa menjadi buruh tani, hidup mereka sudah cukup. Kondisi kasta di India memang sangat kuat. Dan bagi mereka yang tidak beruntung, karena lahir dengan kasta terendah. Maka seumur hidup mereka akan terperangkap dalam kemiskinan.

Kampung mereka jauh dari kategori layak. Air bersih terbatas. Langsung diminum tanpa dimasak. Tidak ada listrik, apalagi sistem sanitasi. Semuanya apa adanya. Hebatnya mereka punya lumbung padi. Khawatir anak-anak mereka tidak bisa makan. Sayangnya kebiasaan minum sangat kental di kampung ini. Seringkali perempuan dan anak-anak menjadi korban kekerasan keluarga, akibat suami/ayah mabuk. Kesehatan, jangan ditanya. Tingkat kematian ibu dan anak sangat tinggi. Bahkan di kampung ini HIV/AIDS pada anak-anak ditemukan.

Saya belajar banyak tentang apa arti sesungguhnya miskin di kampung ini. Tidak mampu saya ungkapkan perasaan saat ini. Tak ada keinginan sedikitpun untuk makan malam.....

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 21:53:29 | Permanent Link | Comments (0) |