August 30, 2006

Welcome to Oxfam Hong Kong!

Minggu lalu saya diminta datang ke Hong Kong. Ceritanya sesi 'induction'. Jadi saya dipaksa belajar cepat tentang tempat saya bekerja, Oxfam Hong Kong [OHK]. Selama 3 hari penuh, saya bertemu beragam orang. Umumnya mereka asli dari Cina. Beberapa saja yang dari Filipina. Salah satunya Direktur saya. Menarik. Ada 200 lebih staf OHK. sekitar 100 orang tersebar diluar Hong Kong. Tapi saya hanya sendiri di Indonesia. Nasib memang. Tapi bisa saja berubah, seandainya memang Hong Kong dan Cina daratan merasa penting untuk intervensi Indonesia.  

 

Saya tertarik dengan kemahiran fundraising organisasi ini. Bayangkan setiap tahun mereka bisa menarik minat publik untuk menyumbang OHK sebesar 140 milyar. Atau 14 juta dollar Hong Kong. Bukan main! Komunikasi merupakan bagian dari tim fundraising.  Publikasi mereka memiliki tiga sasaran: 1] advokasi; 2] pendidikan popular dan 3] fundraising.  Jadi, setiap 1 dolar yang dikeluarkan oleh tim ini, harus bisa mengembalikan 80 dolar. Saya juga senang bahwa OHK mengusung Right Based Approach, dimana non diskriminasi adalah salah satunya. Yang saya lihat kemarin, misalnya, beberapa staf OHK adalah diff-able people.  Walaupun secara fisik berbeda, namun kemampuan mereka luar biasa. Salah satu Direktur OHK memiliki keterbatasan penglihatan . Toh, dia mampu menjadi Direktur.  Hampir di setiap divisi ada diff-able people, dan semangat kerja mereka sangat mengagumkan saya.

Kantornya biasa saja. Jauh dari pusat kota. Walaupun ya tetap saja di wilayah ini hampir tidak tersisa ruang kosong. Semuanya padat untuk berdagang. OHK berkantor di lantai 8 dan 17 diwilayah suburb North Point. Berada tepat diatas stasiun MTR, kereta cepat kebanggaan Hong Kong.  Seperti perkantoran di Pasar Baru atau di Mangga Dua. Kira-kira begitu letaknya. Ramai, penuh orang, dan tentu saja crowded. Walaupun transportasi di Hong Kong patut diacungi jempol, tapi saya sungguh tidak tahan dengan ramainya lalu lalang orang. Kaya cendol, gitu sindiran saya.

 

Selama 5 hari saya tinggal di ruang sempit hotel Ibis. Berhadapan langsung dengan terminal bis dan pelabuhan. Jadi bisa dibayangkan ketidakteraturan disana. Hong Kong menarik hanya sesaat. Dengan juta-an bohlam lampu. Menghabiskan jutaan batu bara. Wah, kawan saya di Greenpeace bisa demo tiap hari kalo ke Hong Kong. Untungnya Greenpeace gak ada cabang di sana. Jadi selamatlah Hong Kong dari protes kaum environmentalis.

Bagaimana pun OHK ini memberi warna baru bagi saya. Go international! Bak penyanyi Anggun Sasmi hijrah ke Paris, saya cukup ke Hong Kong saja. Berharap bertemu Jet Lee. Setidaknya cap tangannya di avenue stars.

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 10:09:51 | Permanent Link | Comments (0) |

August 19, 2006

Solidaritas 'resources'

Minggu lalu saya sempat ke KUPANG. Pertama kali. Saya menghadiri pertemuannya PIKUL, mitranya OXFAM Hong Kong. PIKUL juga lembaga donor lokal. Awalnya merupakan kepanjangan tangan OXFAM Australia, tapi kemudian memerdekakan diri. Lebih banyak melakukan pelayanan di Indonesia Timur. Saya tidak mengenal sepak terjangnya PIKUL. Tapi saya tau persis bahwa PIKUL diakui kredibiltasnya. Senang juga pada akhirnya saya bekerja sama dengan mereka. PIKUL ini baru saja melakukan strategic planning. Ada perubahan besar yang diambil. Transformasi dari Yayasan menjadi Perkumpulan. Menjadi lebih demokratis, saya setuju. Tapi apakah pilihan tepat sebagai grantmaking? atau berubah peran sebagai Simpul Gerakan? itu yang masih dipelajari. Hanya saja belajar dari KEMALA, perkumpulan itu MAHAL. Kecuali perkumpulan ini dibangun memang dengan semangat solidaritas dan kontribusi. Apakah mungkin untuk sebuah grantmaking seperti PIKUL atau KEMALA? bukankah solidaritas terbangun karena 'solidaritas resources'..... Entah. Ini hanya pemikiran selintas saya, tanpa ada maksud.
Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 09:35:57 | Permanent Link | Comments (0) |

Masokis

Sudah lebih setaun emosi saya naik turun. Kambuhan. Tapi sering. Goblok-nya, emosi naik turun itu saya pelihara baik-baik. Gak ada keinginan untuk menstabilkan. Ya, akhirnya menikmati. Ternyata dalam diri manusia memang ada sifat masokis. Senang menyakiti diri sendiri dan menikmati. Dulu sekali, waktu masih kuliah. Saya punya sobat perempuan. Dia pacaran dengan orang Pakistan, cemburuan dan luar biasanya galaknya. Sobat saya ini bolak-balik nangis, karena pacarnya membatasi sobat saya untuk bergaul. Sampai-sampai sobat saya ini tidak punya teman pria. Kasian ya. Akhirnya mereka menikah begitu sobat saya lulus sarjana. Dan suami Pakistan, masih tetap galak dan cemburuan. Pernah terpikir oleh saya, mungkin sobat saya ini cinta setengah mati. Tapi hasil pantauan bertaun-taun. Saya berani menyimpulkan kalau sobat saya ini senang menyakiti dirinya sendiri. Nangis, senang, nangis lagi….. dan kalau lama gak nangis ya kangen. Karena udah lama hatinya gak disakitin. Saya mengalami hal itu. Dan tampaknya kok menyakiti diri sendiri ini menyenangkan. Normal aja selama yang disakiti sekedar hati, bukan kekerasan fisik. Dasar manusia!
Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 04:37:53 | Permanent Link | Comments (1) |

August 01, 2006

Maria's house

Rumah diatas bukit ini membuat saya jatuh cinta. Di ruang kerja mungil, saya mengetik dan sesekali memandang bukit dan laut terhampar dihadapan saya. Duh! beruntung sekali kawan saya ini. Namanya Maria. Fasilitator Daerah Papua, MFP-DFID. Sudah 8 tahun dia kembali ke tanah kelahirannya. Dia besar di pulau Jawa. Sama seperti saya, dia jatuh cinta dengan Papua. Hari ini cuaca cerah. Padahal 2 hari terakhir, hujan tidak berhenti, dan matahari tidak muncul sama sekali. Papua yang tropis. Saya memutuskan untuk bekerja seminggu dirumahnya. Sekarang hari ke-3 saya menginap. Sementara Maria ke Wamena, saya ditemani Kak Yos. Jago masak. Membuat saya semakin betah dirumah ini. Rumah ini berada di kompleks pejabat. Jika saya hendak ke kota, saya melewati rumahnya Gubernur, Pangdam, Ketua DPRD, dan berbagai Kepala Dinas. Jadi bisa dipastikan rumah ini pasti aman dari kerusuhan. Tapi tentunya tidak aman jika terjadi longsor. Maklum rumah ini dibangun dikemiringan 45 derajat. Tapi kekhawatiran itu pupus, terbayar keindahan alamnya. Terima kasih Maria dan kakak Yos.
Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 01:48:39 | Permanent Link | Comments (0) |

Papua Trust Fund

Hari ini saya sedang membantu kawan-kawan di Jayapura. Maria dan Zadrak. Sejak 6 tahun lalu beberapa elit aktivis Papua ini menggagas adanya ‘trust fund’. Sehingga dana-dana yang mengalir di Papua, tidak harus dikelola oleh donor internasional atau dari Jakarta. Papua, sebagai wilayah yang paling diminati, selayaknya mampu mengelola sendiri. Akhirnya awal Juni, dilaunching ‘Papua Civil Society Support Foundation’, terkenal dengan PCSSF. Saya selalu keseleo kalo menyebut PCSSF. Sulit bagi lidah orang sunda. Menariknya, PCSSF harus konsisten sebagai grantmaking, bukan implementing. Itu tekad Zadrak Wamebu, yang diberi mandat sebagai Direktur Eksekutif. Walaupun tidak lama lagi, wajahnya akan terpampang diseluruh kabupaten Jayapura. Zadrak, ikut dalam bursa pemilihan wakil bupati Jayapura. Bisa jadi, Maria akan berperan lebih aktif di PCSSF. Saat ini saya tengah membantu menyiapkan berbagai perangkat organisasi. Online bersama KEMALA di Jakarta. Mulai dari system administrasi, keuangan dan akunting, dan yang terpenting grantmaking system. Saya yakin jika digarap serius, PCSSF akan cepat berkembang. Organisasi ini cukup representatif, karena diwakili oleh elemen masyarakat Papua. Mulai dari kelompok agama, masyarakat adat, gereja, perempuan, pemerintah dan kalangan ornop. Yang penting, bagaimana membangun transparansi dan akuntabilitas. Bagian tersulit bagi kultur Papua. Semoga!
Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 01:46:20 | Permanent Link | Comments (1) |