Welcome to Oxfam Hong Kong!
Minggu lalu saya diminta datang ke Hong Kong. Ceritanya sesi 'induction'. Jadi saya dipaksa belajar cepat tentang tempat saya bekerja, Oxfam Hong Kong [OHK]. Selama 3 hari penuh, saya bertemu beragam orang. Umumnya mereka asli dari Cina. Beberapa saja yang dari Filipina. Salah satunya Direktur saya. Menarik. Ada 200 lebih staf OHK. sekitar 100 orang tersebar diluar Hong Kong. Tapi saya hanya sendiri di Indonesia. Nasib memang. Tapi bisa saja berubah, seandainya memang Hong Kong dan Cina daratan merasa penting untuk intervensi Indonesia.
Saya tertarik dengan kemahiran fundraising organisasi ini. Bayangkan setiap tahun mereka bisa menarik minat publik untuk menyumbang OHK sebesar 140 milyar. Atau 14 juta dollar Hong Kong. Bukan main! Komunikasi merupakan bagian dari tim fundraising. Publikasi mereka memiliki tiga sasaran: 1] advokasi; 2] pendidikan popular dan 3] fundraising. Jadi, setiap 1 dolar yang dikeluarkan oleh tim ini, harus bisa mengembalikan 80 dolar. Saya juga senang bahwa OHK mengusung Right Based Approach, dimana non diskriminasi adalah salah satunya. Yang saya lihat kemarin, misalnya, beberapa staf OHK adalah diff-able people. Walaupun secara fisik berbeda, namun kemampuan mereka luar biasa. Salah satu Direktur OHK memiliki keterbatasan penglihatan . Toh, dia mampu menjadi Direktur. Hampir di setiap divisi ada diff-able people, dan semangat kerja mereka sangat mengagumkan saya.
Kantornya biasa saja. Jauh dari pusat kota. Walaupun ya tetap saja di wilayah ini hampir tidak tersisa ruang kosong. Semuanya padat untuk berdagang. OHK berkantor di lantai 8 dan 17 diwilayah suburb North Point. Berada tepat diatas stasiun MTR, kereta cepat kebanggaan Hong Kong. Seperti perkantoran di Pasar Baru atau di Mangga Dua. Kira-kira begitu letaknya. Ramai, penuh orang, dan tentu saja crowded. Walaupun transportasi di Hong Kong patut diacungi jempol, tapi saya sungguh tidak tahan dengan ramainya lalu lalang orang. Kaya cendol, gitu sindiran saya.
Selama 5 hari saya tinggal di ruang sempit hotel Ibis. Berhadapan langsung dengan terminal bis dan pelabuhan. Jadi bisa dibayangkan ketidakteraturan disana. Hong Kong menarik hanya sesaat. Dengan juta-an bohlam lampu. Menghabiskan jutaan batu bara. Wah, kawan saya di Greenpeace bisa demo tiap hari kalo ke Hong Kong. Untungnya Greenpeace gak ada cabang di sana. Jadi selamatlah Hong Kong dari protes kaum environmentalis.
Bagaimana pun OHK ini memberi warna baru bagi saya. Go international! Bak penyanyi Anggun Sasmi hijrah ke Paris, saya cukup ke Hong Kong saja. Berharap bertemu Jet Lee. Setidaknya cap tangannya di avenue stars.

