Pekanbaru City
Akhirnya saya menginjakan kaki di Riau. Urusan kerjaan. WALHI. Namun, saya selalu sempatkan diri untuk melihat kota yang saya singgahi. Biasanya naik ojek motor. Kali ini, kawan saya, Wong, menjadi guide 1 jam mengelilingi Pekanbaru. Takjub juga melihat pesatnya pembangunan. Katanya sejak otonomi daerah, Pekanbaru langsung bebenah diri. Mumpung ada modal. Semua dipermak habis. Stadion olahraga digusur. Dibangunlah Islamic Centre. Gedung teater terbesar se Asia-Tenggara berdiri megah. Pernah digunakan Festival Melayu se-Asia. Luar biasa. Rumah sakit Umum sekaliber RS. Elizabeth di Singapura sedang proses pembangunan. Tak perlu ke Singapura lagi untuk jadi sehat, tapi cukup ke Pekanbaru. Bahkan, sekolah kedokteran pun berada di pusat kota. ck...ck.... Jika ke suatu daerah, biasanya saya mengunjungi museum. Secara cepat saya bisa belajar dan mengenal daerah yang saya datangi. Wong, kawan saya, sempat terkejut. Wah, terakhir kesini saya kelas dua SD. Artinya sudah hampir 15 tahun. Seperti layaknya museum di tanah air. Sepi, kotor, tak terawat dan miskin pengunjung dialami museum Pekanbaru. Kali itu, hanya kami berdua tamunya. "masih seperti 15 tahun lalu" komentar Wong. Kasihan. Megahnya kota Pekanbaru saat ini, harus dibayar mahal. Hutan dikuras habis. Illegal logging marak. Pulau-pulau kecil dikeruk dan dijual habis ke negara tetangga. Begitu juga minyak bumi dan mineral lainnya. Setiap tahun, bencana banjir dan asap menjadi rutinitas propinsi ini. Kemana Pekanbaru hendak dibawa ?
Posted by
Julia Kalmirah (IJUL)
at
14:59:33
|
Permanent Link
|
|