March 26, 2006

Simple-Unique-Friendly

Saya kenal hotel Haris dari ery. Dia dapat jatah menginap saat fasilitasi KEHATI. Lumayan, 2 kamar. Jadilah saya, sonya, dudu dan nduy bermalam gratis. Dari situlah, hotel haris menjadi tempat favorit. Simple-unique-friendly. Jauh dari suasana remang-remang. Hotel ini didesain memang untuk kalangan bisnis. Enak buat kerja. Warnanya juga bikin semangat. Oranye, hijau dan broken white. Harga sih, relatif terjangkau. Selain di Tebet, hotel haris ada di Tuban dan Kuta, Bali. Ada juga di Batam. Ini bukan promosi. Tapi kalo mau cari inspirasi memang enak menginap di hotel Haris!
Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 15:46:52 | Permanent Link | Comments (1) |

Bali yang biasa

Dua hari lalu saya tiba di Bali lagi. Tetap tidak bersahabat. Hujan. Saya belum sepenuhnya bisa berdamai dengan Bali. Bukan bom. Tapi IPF. Sempat ke Ubud, dengan Inspirit. Tapi tetap tidak menghapuskan kesan baik Bali di hati saya. Begitupun pergantian tahun di Bali tidak terlalu mengesankan. Malah terkapar. Walaupun sempat candle light dinner with my husband. Di restoran barunya mas Suar, LOLOAN. Selamat ya mas! Beruntung kemarin saya menginap di Hotel Haris. Simple-Unique-Friendly. Itu yang saya suka. Sehingga saya lupa kalo sedang di Bali. Sempat menengok Discovery dengan mas Dani, mbak Budhsi, dan mas Dino, adiknya mas Dani. Menemani makan malam, thai food, di Black Canyon resto. Saya cukup pesan orange juice, berasa orson 8000 rupiah/botol. Biasanya saya sempatkan berenang di hotel Haris. Kolam renangnya memang menggoda. Mengurangi sedikit sakit otot dan tulang. Mengencangkan perut dan paha yang terus menggelembung. Gawat! tambah gendut nih. Tapi, saya lupa bawa kacamata renang. Batal deh kurus. Bali memang biasa saja ternyata.
Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 15:23:19 | Permanent Link | Comments (0) |

Pekanbaru City

Akhirnya saya menginjakan kaki di Riau. Urusan kerjaan. WALHI. Namun, saya selalu sempatkan diri untuk melihat kota yang saya singgahi. Biasanya naik ojek motor. Kali ini, kawan saya, Wong, menjadi guide 1 jam mengelilingi Pekanbaru. Takjub juga melihat pesatnya pembangunan. Katanya sejak otonomi daerah, Pekanbaru langsung bebenah diri. Mumpung ada modal. Semua dipermak habis. Stadion olahraga digusur. Dibangunlah Islamic Centre. Gedung teater terbesar se Asia-Tenggara berdiri megah. Pernah digunakan Festival Melayu se-Asia. Luar biasa. Rumah sakit Umum sekaliber RS. Elizabeth di Singapura sedang proses pembangunan. Tak perlu ke Singapura lagi untuk jadi sehat, tapi cukup ke Pekanbaru. Bahkan, sekolah kedokteran pun berada di pusat kota. ck...ck.... Jika ke suatu daerah, biasanya saya mengunjungi museum. Secara cepat saya bisa belajar dan mengenal daerah yang saya datangi. Wong, kawan saya, sempat terkejut. Wah, terakhir kesini saya kelas dua SD. Artinya sudah hampir 15 tahun. Seperti layaknya museum di tanah air. Sepi, kotor, tak terawat dan miskin pengunjung dialami museum Pekanbaru. Kali itu, hanya kami berdua tamunya. "masih seperti 15 tahun lalu" komentar Wong. Kasihan. Megahnya kota Pekanbaru saat ini, harus dibayar mahal. Hutan dikuras habis. Illegal logging marak. Pulau-pulau kecil dikeruk dan dijual habis ke negara tetangga. Begitu juga minyak bumi dan mineral lainnya. Setiap tahun, bencana banjir dan asap menjadi rutinitas propinsi ini. Kemana Pekanbaru hendak dibawa ?
Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 14:59:33 | Permanent Link | Comments (1) |