Appreciative Inquiry
Abepura, 18 Desember
8 pm
Hari ini dan besok saya memfasilitasi PCSSF, Papua Civil Society Support Foundation. Sebenarnya ada nama Indonesianya, Yappenmas. Tapi kurang afdol kedengarannya. Nah, kawan-kawan di Papua justru lebih fasih menyebut PCSSF. Bagi saya sama saja. PCSSF bukan inisiatif baru. Tapi kelanjutan dari berbagai inisiatif ornop Papua termasuk dukungan dari Remdec, KEMALA, dan terakhir DFID-MFP. PCSSF diharapkan sebagai lembaga lokal Papua yang mampu mengelola berbagai sumber daya, baik dari luar maupun di dalam Papua.
Berbagai proses Renstra sudah sering dilakukan sejak tahun 2001. Namun terlalu sulit diimplementasikan. Saya diminta untuk memfasilitasi yang lebih teknis antara staf baru, wakil dari board dan wakil dari region PCSSF. Tujuannya adalah mencari core values dan core purpose organisasi, mencari keunikan organisasi dan kontribusinya bagi perubahan sosial, serta memahami sumber penggerak utama organisasi. Termasuk menjadikan PCSSF istimewa di Papua. Untungnya, saya sedikit belajar dari Inspirit ketika memfasilitasi WALHI setahun terakhir.
Milis vibrant community telah memberi inspirasi bagi saya dan appreciative Inquiry-pun menjadi pilihan metode untuk dua hari proses fasilitasi. Discovery-Dream-Design-Delivery. Proses discovery dan dream sudah kami selesaikan hari ini. Saya kagum memang dengan kekuatannya. Tidak pernah saya bayangkan mama Theresia dari Merauke begitu bersemangat memberikan apresiasi atas pengalaman terbaik sahabat-sahabatnya dari region lain. Mereka sendiri tidak pernah membayangkan kekuatan yang ada di dalam diri mereka sebelumnya. Orpa, dari Sorong misalnya ternyata penyiar radio RRI. Ibu Sisca, telah 7 tahun membantu pasien HIV/AIDS. Pa Laurens telah mendamaikan 29 suku yang ada di Wamena. Banyak lagi kisah mencengangkan lainnya.
Begitu juga saat diajak membayangkan Papua 10 tahun kedepan, mereka membuat poster yang penuh semangat. Penuh warna dan penuh cita-cita. [gunting majalah yang saya ambil dari Garuda saat perjalanan]
Bagi saya proses tadi menyenangkan, tapi sekaligus menyedot energi luar biasa. Saya belum bisa mengatur energi dengan baik. Selesai acara saya terkapar, setelah seharian berusaha untuk konsentrasi dan memberikan energi positif bagi peserta. Hari ini memang panas luar biasa di guest house SIL, Abepura. Mungkin ada kawan-kawan di milis yang bisa berbagi rahasia. Yang pasti bukan extra joss ya....atau segelas coffee starbuck...
Besoknya, hari ke dua….
Saya agak gamang juga setelah baca appreciative inquiry yang dikirim kawan dari Aceh. Bener gak ya apa yang saya kerjakan...tapi jalan terus.
Saya awali kegiatan di hari kedua dengan membuat isu prioritas dari Isu Strategis mereka (design). Ada banyak isu strategis sudah dirumuskan saat SP oleh pa Zadrak dan bang Abdon. Saya juga mengambil teknik inspirit (saat Panthom fasilitasi di Waingapu) dengan permainan kartu/kwartet. Hasilnya tajam. Ada 11 isu akhirnya berhasil di pilih dari sekian puluh isu strategis Papua. Untuk setiap isu, kami membuat 3 langkah penting. Digambar seperti gambar dibalik bungkus indomie. Selanjutnya, kami membuat detail langkah tersebut (delivery). Ukuran berhasil, kebutuhan dana, sdm dan waktu. Terakhir, sebagai bridging antara proses 2 hari ini dengan kehidupan nyata keesokan harinya, sekretariat PCSSF merumuskan 6 capaian prioritas dalam 120 hari. Kegiatan berakhir tepat jam 5.30 sore. Semua surprise dengan hasilnya. Karena tidak menyangka dalam 2 hari bisa merumuskan banyak hal. Tanpa tekanan dan selalu gembira. Semua terharu, saya juga.

