Sunday, November 12, 2006

Sensitivity

Hanya 3 jam bersama, mbak Irul membuat saya tercenung. Mbak Irul ini pedagang kaki lima di kali Rungkut, kota Surabaya. Bagi dia penggorganisasian masyarakat adalah bagian dari hidupnya. Mbak Irul mengawali ceritanya saat urban ke Surabaya. Diterima sebagai buruh pabrik alat-alat rumah tangga. Setahun kemudian aktif di serikat buruh. Bersama rekan-rekannya, mbak Irul pernah mengorganisir 3000 buruh di pabriknya unjuk rasa meminta kenaikan upah minimum. Alhasil, mbak Irul dikeluarkan dari pabrik tempat dia bekerja.

Ketidakadilan yang diterimanya membuat mbak Irul menggugat ke pengadilan. Menang di pengadilan negeri, pengadilan tinggi, bahkan mahkamah agung. Tapi mbak Irul tetap tidak bisa kembali ke pabriknya. Dari proses bersidang, mbak Irul banyak mendapat dukungan. Nasional, internasional. Salah satunya Kelompok Kerja Humanika. Kehidupannya kemudian dilalui mbak Irul sebagai tukang sapu jalanan, berjualan, memomong anak dan banyak lagi pekerjaan informal dilakukannya. Saat bekerja inilah dia terus menggorganisir komunitasnya. Sejak itu, hidupnya didedikasikan untuk membantu para buruh formal maupun informal, yang miskin dan menjadi korban ketidakadilan.

Humanika kemudian menyekolahkan mbak Irul. Tahun 2002, mbak Irul lulus sebagai sarjana hukum dari Universitas Kartini, Surabaya. Menolak berbagai tawaran bekerja di organisasi manapun. Pedagang kaki lima, ketua kelompok informasi masyarakat, ketua usaha pekerja dan banyak lagi aktivitas sosial yang menjadi pilihan mbak Irul. Bersama suaminya, membuka kios kecil disamping sekolah SD Kali Rungkut, Surabaya. Keyakinan mbak Irul dan kehidupan yang dipilihnya, membangunkan rasa haru dan kesadaran saya. Salut mbak Irul. Saya belajar banyak…

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) in 12:00:13
Comments

Leave a Reply