Kembali ke Malang. Kembali ditemani ibu-ibu pekerja rumahan. Tidak pernah bosan saya mendengar kisah-kisah mereka. Selain ibu Sutarti, saya ditemani ibu Wuwun. Bersama Frank, supervisor saya di Oxfam HK, kami berkeliling kembali mengunjungi para ibu-ibu pekerja rumahan. Ibu Sri, koordinator salah satu grup, berteriak saat melihat kedatangan kami. Surprise dikunjungi. Saya jadi terharu. Ada 160 ibu-ibu yang diorganisir oleh ibu Dwi. Memiliki ruang pamer mungil untuk produk-produk hasil kelompoknya, seperti bordiran, sepatu, handy-craft. Semangat ibu Sri memang luar biasa.
Malamnya, mereka menginap di kamar hotel saya. Regent. Baik ibu Sutarti maupun ibu Wuwun, ini kali pertama mereka menginap di hotel Regent. Tidak mungkin, katanya. Karena mereka tinggal di Malang. Ibu Wuwun ternyata pemijat handal. Setelah duduk di mobil berjam-jam, kepenatan saya berkurang dengan pijatan ibu Wuwun. Lumayan massage gratis di hotel berbintang.
Akhirnya kunjungan kali ini ditutup dengan diskusi serius di ruangan kecil kantor Mitra Pekerja Rumahan Indonesia. LSM pendamping perempuan pekerja rumahan. Gagasannya adalah bagaimana perempuan pekerja rumahan ini memiliki jaminan sosial, jaminan kesehatan, dan diakui hak-haknya sebagai pekerja. Kelompok ini tidak pernah dihitung memberi kontribusi bagi devisa negara. Padahal jumlah mayoritas. Entah karena kegoblokan atau kemalasan dari BPS, sehingga pekerja rumahan luput dari penghitungan BPS.
Perjuangan perempuan pekerja rumahan adalah mendapat pengakuan dari pemerintah. Diakui sebagai eksistensinya seperti halnya Serikat Buruh. Sehingga berbagai kegiatan sosial, kredit, pasar, asuransi dapat mereka akses. Berbekat semangat, saat ini 5000 perempuan pekerja rumah bergabung dalam HWPRI (Himpunan Wanita Pekerja Rumahan Indonesia). Di Jatim sendiri mungkin lebih dari 15.000. Sementara di Indonesia, HWPRI baru berdiri di 7 propinsi. Masih perlu kerja keras untuk diakui organisasi nasional. Do’a saya untuk kerja keras ibu Hesti, ibu Cecil, ibu Sutarti, ibu Wuwun dan ribuan perempuan pekerja rumahan.
Tahun depan, saya pasti kembali ke Malang.