November 25, 2006

Sinetron

Sisa malam ini dihabiskan di hotel Parigata, Sanur. Sembari mengetik, sekali-kali saya mencoba menikmati satu tayangan sinetron di Indosiar. Entah apa judulnya, tapi konyolnya luar biasa. Anehnya, saya tetap tidak memindahkan chanel, penasaran ingin tahu akhir cerita. Semakin mendekat ke akhir cerita, semakin banyak kekonyolan. Sungguh tidak berkualitas. Menjual keimanan, sesungguhnya eksploitasi seksualitas.. Sempatkan saja menonton sinetron ’hidayah’ atau ’jalan ilahi’. Satu sisi sosok penuh religius, tapi sekaligus menampilkan ke-vulgar-an, seronok, terkadang semi porno. Tebakan saya sih ditonton karena keseronokannya. Religi sekedar bumbu atau penutup kisah.

Bukannya naif, tapi sinetron menjadi santapan malam mayoritas masyarakat kita. Seringkali sinetron dijadikan panutan. Padahal sinetron kita lebih banyak membuat orang sakit jiwa. Banyak mudharat-nya dibandingkan manfaatnya. Itu kata ibuku.

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 00:12:15 | Permanent Link | Comments (2) |

November 24, 2006

Nervous

Dua malam lalu perasaan saya gado-gado. Maklum pertama kali ikut pertemuan Oxfam. Country Allignmet Team Meeting. Ceritanya berbagai Oxfam yang bekerja di Indonesia kumpul. Ada dari Belanda, Inggris, Australia dan Hong Kong. Kali ini New Zaeland absen. Sebagai orang baru, saya agak nervous juga duduk bersama para bule. Gak enak banget rasanya to be minority. Mungkin juga karena mereka cas-cis-cus terus. Jadi bikin lidah kelu otak beku. Selain itu, sebagian besar yang hadir udah karatan di Oxfam. Lebih dari belasan tahun hidup mati mereka ya di Oxfam.

Agak aneh juga perasaan saya ditengah organisasi internasional. Terlebih lagi saat mendengar rekan sejawat membahas soal mitra, seperti WALHI, Remdec, Satunama, dan banyak lagi nama-nama yang cukup akrab ditelinga saya. Terkadang risih sendiri. Gak biasa dikritik mungkin. He..he..

Nervous saya ternyata tidak beralasan. Oxfam juga manusia. Ternyata saya terlalu berlebihan. Selalu begitu. Kurang percaya diri. Tapi setelah dua hari, ternyata pertemuannya biasa saja. Kering. Boro-boro vibrant! Seterusnya, saya harus membiasakan diri. Menjadi bagian dari mereka.

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 21:50:58 | Permanent Link | Comments (0) |

November 21, 2006

Malang

Kembali ke Malang. Kembali ditemani ibu-ibu pekerja rumahan. Tidak pernah bosan saya mendengar kisah-kisah mereka. Selain ibu Sutarti, saya ditemani ibu Wuwun. Bersama Frank, supervisor saya di Oxfam HK, kami berkeliling kembali mengunjungi para ibu-ibu pekerja rumahan. Ibu Sri, koordinator salah satu grup, berteriak saat melihat kedatangan kami. Surprise dikunjungi. Saya jadi terharu. Ada 160 ibu-ibu yang diorganisir oleh ibu Dwi. Memiliki ruang pamer mungil untuk produk-produk hasil kelompoknya, seperti bordiran, sepatu, handy-craft. Semangat ibu Sri memang luar biasa.

Malamnya, mereka menginap di kamar hotel saya. Regent. Baik ibu Sutarti maupun ibu Wuwun, ini kali pertama mereka menginap di hotel Regent. Tidak mungkin, katanya. Karena mereka tinggal di Malang. Ibu Wuwun ternyata pemijat handal. Setelah duduk di mobil berjam-jam, kepenatan saya berkurang dengan pijatan ibu Wuwun. Lumayan massage gratis di hotel berbintang.

Akhirnya kunjungan kali ini ditutup dengan diskusi serius di ruangan kecil kantor Mitra Pekerja Rumahan Indonesia. LSM pendamping perempuan pekerja rumahan. Gagasannya adalah bagaimana perempuan pekerja rumahan ini memiliki jaminan sosial, jaminan kesehatan, dan diakui hak-haknya sebagai pekerja. Kelompok ini tidak pernah dihitung memberi kontribusi bagi devisa negara. Padahal jumlah mayoritas. Entah karena kegoblokan atau kemalasan dari BPS, sehingga pekerja rumahan luput dari penghitungan BPS.

Perjuangan perempuan pekerja rumahan adalah mendapat pengakuan dari pemerintah. Diakui sebagai eksistensinya seperti halnya Serikat Buruh. Sehingga berbagai kegiatan sosial, kredit, pasar, asuransi dapat mereka akses. Berbekat semangat, saat ini 5000 perempuan pekerja rumah bergabung dalam HWPRI (Himpunan Wanita Pekerja Rumahan Indonesia). Di Jatim sendiri mungkin lebih dari 15.000. Sementara di Indonesia, HWPRI baru berdiri di 7 propinsi. Masih perlu kerja keras untuk diakui organisasi nasional. Do’a saya untuk kerja keras ibu Hesti, ibu Cecil, ibu Sutarti, ibu Wuwun dan ribuan perempuan pekerja rumahan.

Tahun depan, saya pasti kembali ke Malang.

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 06:11:43 | Permanent Link | Comments (0) |

Anggun

Weekend lalu, saya sempatkan diri nonton konsernya Anggun C. Sasmi. Tadinya untuk mengisi malam minggu. Tapi ternyata berakhir luar biasa. Anggun seksi. Seksi suaranya, seksi penampilannya! saya bukan fans-nya Anggun. Sempat ngetop di tahun 80-an, setelah itu Anggun menghilang, lenyap tak terdengar. Dua tahun lalu, muncul lagi. Saya lupa tepatnya. Tapi Anggun menjadi sosok yang anggun. Menikah dengan lelaki perancis, dan tinggal di Paris. Tidak sekedar fasih berbahasa perancis. Anggun go internasional ternyata.

Walaupun Bandung tempat banyak musisi dan penyanyi dilahirkan. Namun, Anggun hanya diberi tempat di hanggar pesawat Nurtanio. Kasian! Sungguh tidak layak bagi penyanyi sekelas Anggun. Penonton jarang, mungkin karena jauh dari mana-mana. Alhasil ada dua perasaan bersalah saya saat itu. Pertama, penonton minim. Kedua, saya gak kenal lagu-lagunya. Sampai lagu ke tujuh saya tetap tidak kenal lagunya.

Tapi Anggun luar biasa. Dia tetap bersemangat. Energi positifnya membuat penonton di VIP turun ke festival. Bergabung bersama saya. Tanpa sadar saya berteriak, bergoyang, terkadang loncat. Wah, luar biasa, vibrant juga ternyata. Saya sekarang salah satu fans-nya Anggun. “mengaku bujangan, kepada setiap wanita, ternyata cucu-nya segudang.....” bergaung di hanggar. Lagu yang tidak pernah pudar sepanjang masa. Anggun yang anggun.....Surprised

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 06:07:51 | Permanent Link | Comments (1) |

November 12, 2006

Surabaya Airport

Bandara Juanda Surabaya ceritanya bebenah, ternyata jadi kacau balau gak karuan. Kebetulan saya terbang dengan Garuda Indonesia. Domestik, namun seperti biasa Garuda mendapatkan ‘keistimewaan’ mendapat jatah di bagian internasional. Keberangkatan internasional penuh sesak. Mulai dari pintu masuk, sampai di counter. Memang ini musim buruh migran berangkat, setelah 1 bulan libur lebaran. Alhasil, bandara Juanda padat, sesak, crowded.

Semuanya serba tanggung. Ruangan counter tanggung. Sempit. Orang berdesakan masuk. Berdesakan bayar fiskal. Berdesakan di counter. Berdesakan ketika melewati imigrasi. Kacau. Semuanya masih manual, karena line telpon belum siap. Padahal bangunannya mewah. Semua serba marmer. Akhirnya, saya bisa meloloskan diri dari berbagai keruwetan. Ruang tunggu di dalam cukup nyaman untuk menanti pesawat datang.

Walaupun serba kikuk, bandara ini menjadi tempat rekreasi masyarakat sekitarnya. Ada anjungan cukup luas untuk melihat pesawat take off. Anak-anak suka cita mencoba elevator. Beberapa tanpa alas kaki. Ada juga satu keluarga yang ‘botram’ buka nasi timbel, makan pagi bersama. Mereka tidak peduli kesibukan orang berlalu lalang ataupun kekacauan sistem bandara. Bagi mereka, akhirnya mereka bisa melihat dari dekat bandara yang menggusur tanahnya. Sedih, tapi mungkin juga ada kebanggaan. Pembangunan pesat telah terjadi di kampung mereka.

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 12:02:53 | Permanent Link | Comments (0) |

Sensitivity

Hanya 3 jam bersama, mbak Irul membuat saya tercenung. Mbak Irul ini pedagang kaki lima di kali Rungkut, kota Surabaya. Bagi dia penggorganisasian masyarakat adalah bagian dari hidupnya. Mbak Irul mengawali ceritanya saat urban ke Surabaya. Diterima sebagai buruh pabrik alat-alat rumah tangga. Setahun kemudian aktif di serikat buruh. Bersama rekan-rekannya, mbak Irul pernah mengorganisir 3000 buruh di pabriknya unjuk rasa meminta kenaikan upah minimum. Alhasil, mbak Irul dikeluarkan dari pabrik tempat dia bekerja.

Ketidakadilan yang diterimanya membuat mbak Irul menggugat ke pengadilan. Menang di pengadilan negeri, pengadilan tinggi, bahkan mahkamah agung. Tapi mbak Irul tetap tidak bisa kembali ke pabriknya. Dari proses bersidang, mbak Irul banyak mendapat dukungan. Nasional, internasional. Salah satunya Kelompok Kerja Humanika. Kehidupannya kemudian dilalui mbak Irul sebagai tukang sapu jalanan, berjualan, memomong anak dan banyak lagi pekerjaan informal dilakukannya. Saat bekerja inilah dia terus menggorganisir komunitasnya. Sejak itu, hidupnya didedikasikan untuk membantu para buruh formal maupun informal, yang miskin dan menjadi korban ketidakadilan.

Humanika kemudian menyekolahkan mbak Irul. Tahun 2002, mbak Irul lulus sebagai sarjana hukum dari Universitas Kartini, Surabaya. Menolak berbagai tawaran bekerja di organisasi manapun. Pedagang kaki lima, ketua kelompok informasi masyarakat, ketua usaha pekerja dan banyak lagi aktivitas sosial yang menjadi pilihan mbak Irul. Bersama suaminya, membuka kios kecil disamping sekolah SD Kali Rungkut, Surabaya. Keyakinan mbak Irul dan kehidupan yang dipilihnya, membangunkan rasa haru dan kesadaran saya. Salut mbak Irul. Saya belajar banyak...

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 12:00:13 | Permanent Link | Comments (0) |

Fair trade?

Istilah ini tidak asing lagi. Kadang saya sering kebalik-balik antara free trade atau fair trade. Free trade tidak berarti fair trade. Bagi saya ya fair trade sekedar jargon. Dua hari saya di Malang saya ditemani Ibu Sutarti. Berkeliling mengunjungi kawan-kawannya, para pekerja rumahan [home based workers].

Pekerja rumahan umumnya perempuan. Alasanya, lumayan dapat tambahan. Ada pembuat raket dan ‘kok’ untuk bulutangkis. Ada pembuat ‘tempeh’ dan tempat memasak nasi dan banyak lagi. Mereka bekerja dirumah. Biasanya para juragan akan mendrop bahan-bahan setengah jadi dirumah mereka. Barang jadi diambil juragan mingguan. Bayarannya sangat sangat murah. Bayangkan untuk 1 tempeh, seorang ibu dibayar hanya 150 rupiah/buah. Artinya 1 minggu hanya 15 ribu. Padahal pekerjaannya mulai dari membelah bambu, menghaluskannya dan menjemur, baru kemudian dianyam. Seorang ibu yang saya temui telah melakukannya lebih dari 15 tahun.

Tertegun. Shock. Depresi. Enak betul para pengusaha. Mereka tidak perlu menyediakan tempat, biaya kesehatan pekerja, listrik, dan biaya produksi lainnya. Ada dua jenis pekerja rumahan. Putting Out System dan Self Employed. Hebatnya, semua pekerja yang saya datangi paham betul apakah dirinya POS atau SE. Ibu pembuat tempeh adalah POS. Sedangkan SE semi juragan. Mereka mendapatkan order dan order itu dibagi kepada POS. Seringkali SE merugi ketika para juragan tidak membayar mereka. Dan tentunya perjanjian/kontrak tidak mereka kenal. Alasannya, tidak enak, masa tidak percaya. Toh akhirnya merugi.

Saat ini para pekerja rumahan di Jatim mulai mengorganisir diri. Himpunan Wanita Pekerja Rumahan Indonesia-Jatim [HWPRI]. Tersebar. Ibu Sutarti adalah Koordinator Nasional HWPRI. Dengan sepeda motor, hadiah dari Meperindag, bu Sutarti berkeliling mengajak para pekerja rumahan untuk berorganisasi. Sehingga ada kesadaran untuk meningkatkan posisi tawar kepada juragannya. Fair trade, jaminan sosial. Tidak hanya untung di pengusaha, tapi juga bagi pekerja rumahan. Tidak sekedar pasrah. Upaya ibu Sutarti tidak sia-sia. Saat ini lebih dari 60 kelompok berjuang bersamanya. Berjuang agar pekerja rumahan dianggap layak mendapatkan keadilan.

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 11:55:21 | Permanent Link | Comments (0) |