October 31, 2006

Home based worker

Sulit jadi pekerja rumahan. Gagap rasanya. Senangnya, karena tidak perlu bangun pagi. Kerja sambil menikmati double shot, channel V dan diselingi ’bourne supremacy’ - HBO. Sialnya, saya bisa puasa ngomong dan ketemu orang seharian. Bosan juga. Akhirnya 3 bulan terakhir ini saya senang berburu internet café.

Kolega saya menyebar. Sama home based worker seperti saya. Dili, Hong Kong, Davao, Hanoi, New Delhi, Zambia. Skype membuat kami terasa dekat. Setiap hari kami sempatkan saling sapa. Seru juga. Kadang hanya sekedar tanya kesehatan, anak, suami, istri. Tapi seringkali ngobrol kerjaan.

Home based worker bagi saya penghematan luar biasa. Tidak perlu sewa kantor yang semakin mahal. Mengurangi energi fuel, karena jarang bepergian. Mengurangi per-gosip-an, karena jarang ketemu orang. Dan lebih banyak waktu buat diri sendiri. Membaca, menulis menjadi kegiatan rutin saya saat ini. Termasuk menonton dan mendengarkan musik. Las ta mas ta. Bikin hidup lebih hidup!!

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 12:35:16 | Permanent Link | Comments (0) |

Aceh & husband

Aceh tetap saja hadir di kehidupan saya. Rully, suami, akhirnya memutuskan untuk menetap 2 bulan. Dia masih yakin bahwa perubahan di Aceh bisa dilakukan melalui anak mudanya. Melibatkan para pakar pendidikan favoritnya, timnya-Baraka, mulai menyusun kurikulum teknik membaca dan menulis. Saya sendiri tidak tahu terlalu banyak. Tapi saya tahu persis bahwa dia menikmati dan antusias. Itu yang penting. Passion saya untuk Aceh hampir luntur. Walaupun dipastikan tahun depan saya akan menjadi bagiannya kembali.
Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 12:31:36 | Permanent Link | Comments (2) |

October 30, 2006

Be Cool

Sabtu lalu saya sempatkan berkunjung ke kawan lama. Sayangnya, suasana lebaran, tidak memulihkan hubungan kami. Ucapan maaf lahir bathin terasa hambar. Bahkan saya tidak merasakan ada keakraban. Ntah mungkin saya terlalu berlebihan. Perasa.

Awalnya saya berharap ada pertanyaan. Ternyata tak satupun komentar dari kawan lama saya, apalagi pertanyaan. Saya harusnya berhenti. Berhenti merasa bersalah. Berhenti empati. Berhenti merasa diperlukan. Ya, berhenti saja. Termasuk berhenti memikirkan. Ya, biarkan saja. Ya, lupakan saja. Ya, sudahlah....! Cool

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 09:54:25 | Permanent Link | Comments (1) |

October 26, 2006

In memorial : FATHER

Sudah lebih 17 tahun ayah saya wafat. Entah sudah berapa tahun saya tidak menginjakkan kaki di makamnya. Sedih. Saya selalu sedih, karena kami begitu dekat. Ayah saya meninggal saat saya naik ke kelas dua SMA. Saya kemudian mengikuti jejaknya dibidang hukum. Seandainya masih ada, pasti kami seru diskusi kebobrokan hukum, ketidakadilan, korupsi, bahkan cara pat-pat gulipat untuk mendapatkan sertifikat tanah. Ah, rindu jadinya.

Ayah seperti kawan bagi saya. Tempat curhat, nge-gosip, bahkan membuatkan pe-er. Saya selalu minta ayah saya mengerjakan pe-er bahasa inggris dan menggambar. Kami paling sering jalan-jalan ke alun-alun, naik becak dan makan bakso favorit kami, yamien. Nonton film adalah rutinitas kami berdua. Setiap liburan sekolah, selalu menyempatkan diri untuk membawa kami berlibur. Borobudur, Ancol, Bali tempat yang pernah dikunjungi kami sekeluarga.

Setiap ulang tahun, ayah saya pasti membeli kue tart dan soes Merdeka. Dulu sih terkenal. Saya sampai hapal. Karena tidak hanya ulang tahun saya saja, tapi juga 4 kakak saya lainnya. Ayah saya selalu ingat. Setiap senin pagi, membagikan uang saku kami selama seminggu. Dan sudah pasti saya terendah, karena anak terkecil. Ayah saya selalu siap hadir disetiap pembagian rapor, rapat guru dan orang tua, bahkan sekedar mengantar dan menjemput kami di sekolah.

I miss you, dad....!

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 20:43:26 | Permanent Link | Comments (0) |

Collapse

Hari ketiga lebaran saya ikut tradisi mudik ke Ciakar-Cangkuang, kampung ayah saya. Sekitar 30 menit sebelum tiba di kota Garut. Kampung ayah saya terkenal dengan candi Cangkuang. Warisan kerajaan Hindu di masa lampau. Sekitar 5 tahun lalu saya mengunjungi candi Cangkuang. Saya sempatkan mengunjungi rumah keluarga. Rumah ini tepat menghadap gunung Haruman, tempat berlatih paragliding tingkat advance.

Kali ini saya terhenyak. Sedih. Danau Cangkuang, dulu airnya begitu melimpah. Sekarang penuh lumpur. Kamar mandi umum, toilet umum tinggalah cerita. Selokan yang dulunya berair jernih, sekarang tidak lagi. Jorok. Pohon-pohon tidak ada lagi. Bahkan sawah-sawah terlihat kering kerontang.

Hanya dalam kurun 5 tahun, kampung saya telah collapse. Sulit air, gagal panen, tanah kering. Dulu, Cangkuang selain terkenal karena candinya, juga air yang melimpah. Ketika kecil, saya paling suka bermain di danau Cangkuang. Airnya bersih, dan saya bisa melihat ganggang, bunga teratai dan ikan-ikan. Sekarang tertutup lumpur dan sampah. Cry

Depresi. Saya semakin yakin bahwa pendidikan lingkungan sejak dini memang penting. Minimal, buat kebaikan dan kesehatan di lingkungan terkecil. Teringat pesan sahabat saya : “think locally, act locally!”

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 20:19:54 | Permanent Link | Comments (0) |

October 25, 2006

Rumah Stroberi

Seru! itu gambaran saya tentang rumah stroberi. Berada diantara perjalanan dari Bandung menuju Lembang. Tepat dibawah the PEAK, tempat nongkrong favorit anak Jakarta. Saya sendiri belum pernah ke the PEAK. Tapi ke rumah stroberi, kali kedua saya. Tetap menarik. Juice stroberi, strobery segar dilumuri melt coklat, bahkan petik langsung stroberi di kebunnya adalah menu utama rumah ini. Bersama 6 ponakan, kami menikmati berbagai suguhan stroberi.

Saya agak tercengang dengan kemajuan rumah stroberi. Pertama kali kami berkunjung, kecil dan hanya resto dan beberapa rumah plastik. Sekarang jauh lebih luas dan lebih profesional tentunya. Selain suguhan stroberi, nasi timbel komplit juga menjadi menu khas rumah stroberi. Mai, sahabat saya, sangat terinspirasi. Maklum anak pertanian. Yang terpikir olehnya, Ecosisters harusnya bisa bikin rumah stroberi. Semoga ya, May....

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 21:31:08 | Permanent Link | Comments (0) |

My KURCIL

Ponakan saya 6 [1 lagi masih di Tasikmalaya]. Desni, Ica, Hani, Nay, Irfan, dan Atuy. Mulai dari SMA kelas 1 sampai TKB. Seluruh ponakan saya doyan memamah biak, alias makan. Apapun yang disajikan, ludes. Desni, anak SMA 8 Bandung. Ponakan yang paling dekat dengan saya. Desni tiap bulan mengirim 2 tulisan. Insentifnya, 150 ribu, buat nabung beli handphone. Ada aja caranya minta uang ama tantenya. Tapi saya apresiasi. Nay, adiknya kelas 6 SD. Selalu iri dengan kakanya. Cantik dan lucu, tapi pemarah. Senang berdandan. Sedangkan Atuy, kelas 5 SD, senang main games. Seperti layaknya anak-anak sekarang. Pintar, walaupun jarang belajar. Bakat mungkin.

Ica, SMA kelas 1 juga di Tangerang. Pinter. Selalu jadi juara kelas. Sekarang lebih pendiam, dan lebih dewasa dari umurnya. Hobinya main musik. Keyboard yang paling dia kuasai. Hani, adiknya SMP kelas 2 di Tangerang. Senang musik juga. Terbawa-bawa Ica. Lebih suka bergaul dan banyak teman. Atuy, TK B. Ampyun! anak terkecil dan lucu ini doyannya main petasan dan nonton Shark Tale. Setiap malam petasan dipastikan mengganggu tetangga. Dan setiap pagi, Shark Tale selalu membangunkan kami semua.

Seluruh ponakanku yang perempuan berjilbab. Memang suasana religi di rumah saya kental terasa. Mulai dari sholat subuh bersama, magrib bersama, dan kami memiliki mushola yang cukup asik buat tiduran. Sebentar lagi lebaran berakhir. Ponakan saya kembali kerumah orang tuanya masing-masing. Rumah di Pasirluyu akhirnya lengang kembali.

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 08:06:14 | Permanent Link | Comments (0) |

Eid Mubaraq

Minal aidzin walfaidizin. Maaf Lahir Bathin....Innocent

Ucapan ini kerap muncul di HP saya. Ntah berapa puluh, mungkin ratus sms yang saya terima. Mulai dari sahabat dekat, sampai sahabat di Papua, Aceh, Palu dan bahkan kawan lama saya di Jeddah. Senang rasanya. Alhamdulilah dengan sms semua terasa dekat dan murah.

Saya sembahyang Id di jalan raya BKR. Seru juga. RW kami menutup jalan utama. Yang pasti setelah itu terjadi kemacetan. Sayangnya ceramah Pa Ustad Firdaus, favoritnya ibu-ibu di kampung saya, terlalu Aa Gym. Plagiat. Sampai saat berdoa saya bingung ini Ustad Firdaus apa Aa Gym. Saya jadi ingat ketika Zainudin Mz, da'i sejuta umat ngetop. Ustad Firdaus juga mirip kaya Zainudin Mz.

Hari ini hari ke dua lebaran. Masih banyak kerabat yang berkunjung. Maklum ibu saya memang yang dituakan. Tepatnya, angkatan diatas ibu ku sudah "passed away". Jadi tinggal ibu ku. Rencananya, hari ini kita akan ke rumah stroberi. Asiknya menikmati stroberi dan naik liwet ala sunda. Yummmiee.....

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 08:00:23 | Permanent Link | Comments (0) |

October 24, 2006

Ery

Terusin lagi kisah para sahabat.... 

Minggu lalu pertama kalinya saya melihat keajaiban. Sosok mungil di dalam perut. Sahabat. Cantolan juga. Kini tengah hamil 4 bulan. Kehamilannya menambah ’kehebohan’ uups-nya. Katanya, ribet banget cari baju. Even untuk baju hamil. Dasar!

16 Tahun sudah saya mengenalnya.. Kala itu kami masih sama-sama kuliah. Saya di Unpar. Ery di Unpad. Kami bertemu di Halimun. Saat malam tahun baru. Setelah itu kami sering bersama. Jaman miskin. Walau miskin, semangat main kami luar biasa. Bayangkan modal 10 ribu di kantong, kami nekad ber-week-end di Bogor

Satu hal yang selalu saya ingat saat kuliah dulu. Saking miskinnya, ery kerap puasa senin kamis. Saking kasiannya, suatu hari, uang jajan saya seminggu, saya beli untuk ayam kentucky. Sebelum magrib, ayam kentucky saya kirim ke kost-annya. Tanpa ba bi bu, saat magrib tiba, sobat saya ini makan dengan lahap. Wah, senang juga saya. Gampang juga bikin dia bahagia!. Beberapa tahun kemudian, sohib Ery, Iva, kasih tahu saya, kalo saat itu Ery gak puasa [ngaku-nya puasa]. Sial! Huh...tertipu. Saya gak pernah lupa tuh...

Saya bahagia dengan kehamilan sobat saya. Minimal, saya bisa jadi orang tua asuh, kala  sibuk or keluar kota. Sobat saya ini taft banget lah. Jadi raw model keluarganya. Walaupun kadang ancur, cuek, suka-suka. Tapi tetep setia lah.

Semoga anaknya sehat wal afiat. Jangan ditiru ya kelakuan nyokapnya yang....ampyun lah! [terjemahin sendiri kaleee....he...he...].

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 06:05:33 | Permanent Link | Comments (0) |

Ramadhan

Hari ini terakhir berpuasa. Saya melewatinya di Bandung, kota kelahiran saya. Bandung sekarang sudah panas. Saya jadi teringat masa kecil. Saat sahur, selimut tebal pasti membungkus tubuh kami. Dingin, brrr. Membuat kami malas bangun dan sangat tersiksa saat itu.  Sekarang tidak lagi. Walaupun pintu rumah kami terbuka. Tetap saja tidak dingin.

Sebagai anak bungsu, ibu saya biasanya membangunkan saya lebih dahulu. Sembari diimingi-imingi bagian kornet yang terbesar. Kami 5 bersaudara. Jadi, ibu saya membagi kornet menjadi 5. Nah, saya biasanya bangun sigap, kalau ibu saya bilang kornet buat saya lebih banyak. Lucu. Tau aja ya kalau anaknya rakus. Jadi rindu masa kecil.

Sekarang sudah berganti. Meja makan dipenuhi ponakan saya. Dari yang SMA sampai TK. Makan sahur pun lebih beragam. Sosis, nugget, chicken wing. Siap saji dan disukai anak-anak. Saya sendiri tidak tertarik dan memilih buah semangka. Dulu, ayah saya hanya minum air putih dan korma. Sementara ibu saya menghabiskan waktu ramadhan lebih banyak di mesjid, dekat rumah. Terkadang sahur di mesjid.  Bagi saya ramadhan tempat berkumpul. Silaturahmi. Saya jarang pulang ke Bandung. Jadi senang juga bertemu sanak sodara. Samar-samar terdengar suara mengaji dari mesjid. Ternyata ibu saya. Senang juga ya.

Besok lebaran. Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan bathin.

Posted by Julia Kalmirah (IJUL) at 06:02:25 | Permanent Link | Comments (0) |
1 2