gone with the winds….
Apresiasi orang Aceh terhadap bantuan sudah lenyap…rasa haru terkikis, tenggelam ditengah kesibukan kerja-kerja atas nama kemanusian.
Tertegun, saat seorang kawan senior WALHI Aceh mengomentari bantuan obat-obatan untuk korban banjir di Kutacane. ‘Wah, sedikit sekali…ini sih bikin susah…bla…bla..! sungguh bikin sakit kuping saya. Kemana hati dan pikiran kawan saya ini. Anehnya, komentar itu justru disambut komentar-komentar sejenis, diselingi gelak tawa sinis. IRONIS.
Peristiwa aneh lainnya menimpa sohib saya. Dia kerja untuk lembaga donor. Terlalu kecil untuk ukuran kawan-kawan Aceh saat ini. Hibah untuk sustainable livelihoods dan partisipasi perempuan. US$ 50,000 per proyeknya. Miris juga melihat keteguhan sohib saya menghadapi cibiran kawan-kawan aktivis Aceh. Akhirnya, sohib saya menyerah, putus asa melihat proposal-proposal milyaran rupiah yang diajukan, tanpa rincian biaya…..
Sebegitu rapuhnya kah para aktivis kemanusian
Seburuk itu kah pikiran dan hati para aktivis kemanusiaan
Depresi juga saya menghadapinya… atau kah saya terlalu NAIF??
Note :
anda rindu rasa STRESS, frantic or be trouble….
datanglah ke WALHI Aceh atau ke WALHI SUMUT
dijamin bisa ngerasain ... J

